Selasa, 24 April 2012

Irama Ku Bukan Irama Mu


Musik sebuah seni yang ku sukai sejak dulu, sejak aku belum menginjak bangku pendidikan. Masih terpondasi dengan baik diingatanku, pertama kali kakak ku mengenalkan jenis musik slow rock seperti salah satu lagu dari air supply dengan judul Good Bye. Dan kurasakan sangat tenang sekali pada waktu itu. Seolah sebuah musik dapat membuat ku relax, dengan nada serta syair yang dapat membawa  pikiran serta hati kita ke alam bawah sadar, membius, melayang bebas menapaki cakrawala impian.

Suatu hari kakak ku mengenalkan ku dengan musik baru, pada waktu itu aku masih menginjak bangku sekolah dasar, pada waktu itu musik hanya sarana hiburan buat ku, tidak lebih! Masih ingat, sebuah musik dari negeri  jiran beralunan syahdu dengan bahasa melayu serta mempunyai lirik keyakinan, pada waktu itu aku tidak mengenal yang namanya da’wah lewat musik, lantas ku tanya pada kakak ku dengan bahasa sunda “khas sar” lagu naon ieu Aa? Lantas kakak ku menjawab “ ini lagu nasyid” aku pun hanya bisa menjawab “ooo. Tidak peduli lagu apa, yang ada dipikiran ku sama tentang musik pada waktu itu, enak ga yah lagunya, lantas ku coba mendengarkan salah satu lagunya, ooo ternyata enak di dengar. 

Beberapa hari kemudian hatiku terhanyut ketika mencoba mendalami syair dari lagu ini, membuat ku penasaran, karena syair-syair nya membuatku benar-benar bukan hanya lapang hati tetapi membuatku ingin menangis melihat kenyataan dunia yang ada.

Dimulai dari itu, aku pun sedikit-sedikit mendalami apa sebenarnya nasyid itu? Beberapa tahun ku lewati, dengan membawa segudang tanya mengenai apa itu nasyid, akhirnya semua terjawab ketika aku memasuki SMU, tentu jawaban itu bukan hanya mengenai nasyid saja tetapi adanya inovasi perkembangan dakwah yang diselaraskan dengan kondisi pada saat itu, ya! Kondisi pada saat itu kebanyakan orang menyukai yang namanya seni bermusik, musik mudah di cerna, enak di dengar musik universal.

Akhirnya menginjak SMU aku membuat tim nasyid, dengan kapasitas seadanya, aku berusaha untuk dapat menyampaikan sebuah kata nasehat lewat sebuah lantunan musik. Ternyata bagaimanapun inovasi sebuah perjuangan, sehebat-hebatnya inovasi tetap Alloh SWT lah yang Maha memberi kesuksesan, kelancaran dan kesempurnaan. 

Dan kepada diri kita masing-masing lah baik – buruk kembali. Aku sempat tergelincir, arahku menyimpang dari jalur sebelumnya, sebuah jalur dakwah yang seharusnya ku lalui, bukan sebuah jalur yang penuh dengan ambisi dikenal, terkenal atau pun sombong. Dakwah tetaplah dakwah tidak ada kepentingan di atasnya. Akhirnya aku pun bimbang jika kelak harus kembali bernasyid, takut, semua penuh dengan kecemasan. 

Nasyid bukan sekedar musik dengan musik yang bagus, dengan suara yang bagus, peralatan yang lengkap, laku di pasaran, bukan itu….bukan itu….! Bernasyid tidak segampang yang kita kira, memegang mix, bernyanyi. Bernasyid lebih susah di banding audisi Indonesia Idol, hati dan jiwa kita harus benar-benar hanya kepada Alloh SWT. Musik, suara, penampilan hanya pendukung tersampaikannya tujuan dakwah.
Aku menangis ketika nasyid dijadikan murah seperti lagu-lagu lain. Nasyid buat ku sebuah cara menyampaikan sebuah nasehat baik, nasehat yang harus meninggalkan bekas di hati para pendengarnya. “HS”